hre2mWE1B8yril0Md73vZpJvdvZFTOsCNrt4TLpt
Bookmark

KPA Papua Tengah Gandeng Gereja dan Dewan Masjid, Perkuat Edukasi untuk Tekan HIV/AIDS

KPA Papua Tengah dan Pihak Gereja (KIGMI) seusai menandatangani MoU di ruang Aula kantor Klasis Nabire. Foto: ist
Nabire, KPA-Papua-Tengah..| Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dengan menggandeng lembaga keagamaan, termasuk Gereja Kemah Injil (KINGMI) Klasis Nabire dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Papua Tengah. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui kegiatan keagamaan dan pembinaan umat.

Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Papua Tengah. Berdasarkan pemberitaan pada 30 Juli 2025, jumlah kasus yang tercatat mencapai 23.188. Angka tersebut kemudian dilaporkan meningkat menjadi 23.891 kasus dalam pemberitaan pada Agustus 2025. Data ini merujuk pada laporan dari periode tersebut, bukan angka terbaru yang telah diverifikasi.

Ketua KPA Papua Tengah, Freny Anouw, menegaskan bahwa penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah dan lembaga kesehatan tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan, serta masyarakat.

Kerja sama dengan lembaga gereja dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama KINGMI Klasis Nabire pada 30 Juli 2025. Melalui kemitraan ini, edukasi mengenai HIV/AIDS diharapkan dapat menjangkau jemaat melalui ibadah dan berbagai kegiatan gereja.

Selanjutnya, KPA Papua Tengah juga menjalin kerja sama dengan DMI Papua Tengah melalui penandatanganan MoU di Nabire pada 6 Agustus 2025. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penyampaian informasi kesehatan kepada umat Islam melalui kegiatan dakwah dan pembinaan keagamaan.

KPA Papua Tengah dan Pihak (DMI) seusai menandatangani MoU di Aula Masjid Karang Mulia Nabire. Foto: ist

Sekretaris Umum DMI Papua Tengah, Wahyu Budi Santoso, menyatakan dukungannya terhadap upaya tersebut. DMI berencana memberikan pembekalan kepada para khatib mengenai HIV/AIDS agar mimbar dakwah juga menjadi ruang edukasi sosial dan kesehatan bagi masyarakat.

Pelibatan lembaga keagamaan dinilai penting karena gereja dan masjid memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pesan mengenai pencegahan HIV, pentingnya pemeriksaan kesehatan, serta akses terhadap layanan medis diharapkan dapat disampaikan secara lebih luas dan berkelanjutan.

Selain memperkuat edukasi, upaya penanggulangan HIV/AIDS perlu disertai akses terhadap pemeriksaan, pengobatan, dan pendampingan bagi orang yang hidup dengan HIV. Informasi yang benar juga penting untuk mengurangi stigma dan diskriminasi, sehingga masyarakat tidak ragu mencari layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Kolaborasi KPA dengan gereja dan DMI menjadi langkah untuk memperkuat tanggung jawab bersama dalam menghadapi persoalan HIV/AIDS di Papua Tengah. Keberlanjutan program, keterlibatan masyarakat, serta dukungan lintas sektor akan menjadi bagian penting dalam memastikan edukasi tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut menjadi tindakan nyata untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar